Nyinyir Itu Hanya Ranting yang Harus Dibersihkan

Ada sebuah perkataan Imam Syafiie yang paling saya ingat, “Kita tidak bisa terus-menerus mengikuti perkataan orang lain”. Setidaknya, begitulah yang saya ingat, walaupun redaksinya mungkin berbeda. Tapi intinya adalah, kita harus menutup mata dan telinga ketika hendak melakukan sesuatu, menuju sebuah jalan yang kita yakini akan membawa kesuksesan. Jika kita harus mempertimbangkan perkataan orang lain, maka apa yang kita cita-citakan hanya berjalan di tempat.

Bukan berarti kita tidak menerima saran dan kritik atau saran daari orang lain. Kadang kritik yang tanpa disertai saran dan solusi kelihatan hanya seperti nyinyiran dan akan membuat kita tidak bersemangat  lagi untuk mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu, jika kita sudah ada suatu keputusan dan ingin melaksanakannya, jika ada saran yang kita rasa bisa kita pakai, laksanakan. Jika tidak, anggap saja sebagai angin lalu.

Karena kebanyakan orang hanya mengomentari saat kita sedang berproses. Ketika kita sudah tiba di puncak, mereka akan mengakui atas apa yang sudah kita kerjakan. Tidak ada yang mustahil jika kita sudah yakin dan sudah melakukan apa yang kita yakini tersebut. Nyinyiran kelihatan hanya seperti semak belukar yang harus kita bersihkan untuk membuka jalan, seperti dalam hutan. Jalan yang besar pertama kali timbul dari hutan yang dibersihkan.

Filosofi ini patut kita renungkan saat ingin memulai sesuatu. Apa yang telah terjadi sekarang adalah buah dari ketekunan orang yang terdahulu. Mereka berbuat untuk kenikmatan yang kita rasakan sekarang. Karya-karya mereka terlihat sekarang. Kita bisa menikmati apa dengan nyaman hasil dari jerih payah mereka. Orang yang nyinyir tidak akan dikenang dalam sejarah. Hanya orang yang berbuat dan menghasilkan karya yang akan dikenang dalam sejarah. Selebihnya hanya ranting-ranting yang harus dibersihkan.

Untuk informasi tentang @the-garuda, kamu bisa kunjungi website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *