Mana yang Benar-Benar Teman?

Kapan kita bisa melihat seorang teman itu setia? Ketika kita sedang berada di titik terendah dalam hidup. Saat kita kehilangan arah dalam finansial maupun moral, mereka tetap hadir mendukung dan menemani saat-saat sulit kita. Bukan hanya ada ketika kita berada di puncak dan menikmati kesenangan bersama.

Banyak orang yang tahu akan hal seperti ini tetapi mereka tetap berada pada  kehidupan yang itu. Memanfaatkan teman untuk hal-hal yang menguntungkannya saja. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi sekarang. Sudah sejak pada zaman kuno, perangai manusia yang seperti ini ada. Di Arab, lahir sebuah syair atas kejadian ini. “Jangan sangka olehmu temanmu itu adalah orang yang menemanimu di saat senang. Tapi justru temanmu adalah orang yang menemanimu saat susah dan miskin.

Ironis memang, tapi begitulah yang terjadi. Teman adalah orang yang paling dekat untuk bisa menyakiti kita. Tapi bukan berarti kita harus menjauhi mereka. Berteman saja seadanya dan sesederhana mungkin. Jangan berlebihan jika kamu tidak ingin sakit terlalu dalam. Serahkan semua hidupmu kepada Allah dan Rasulnya. Cintai keduanya dengan sedalam-dalamnya. Karena Allah dan Rasulnya tidak akan pergi ketika kamu berada di puncak bahkan disaat kamu jatuh ke dalam lubang yang dalam.

Berbeda dengan manusia yang kadang hanya memasang topeng untuk bisa dekat dengan sesamanya. Mungkin tidak semuanya sama. Tapi Imam Assyafiie pernah berujar bahwa beliau telah mempelajari hidup, dan yang paling sakit adalah ketika beliau berharap kepada manusia. Mereka tidak seperti yang kita sangka. Mereka bisa saja berubah dan berbeda dengan anggapan kita kepadanya.

Untuk informasi tentang @the-garuda, kamu bisa kunjungi website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *