Jangan Jadi Seniman Cengeng!

Bagaimana seharusnya yang kita lakukan jika kita adalah seorang yang seniman, penulis, filmmaker, atau penghasil karya lainnya? Ketika karya kita tidak dihargai, lebih lembutny tidak ada yang peduli dengan apa yang kita hasilkan. Siapa yang akan kita salahkan? Diri kita sendiri atau orang lain yang seharusnya menghargai karya kita?

Jangan dulu menghakimi, lihat kembali apakah karya itu perlu baginya? Apakah dengan apa yang kita hasilkan, bisa membantu dia untuk lebih baik, atau malah sebaliknya. Apakah wajib bagi mereka untuk peduli terhadap apa yang kita hasilkan. Kita kadang terlalu sombong untuk mengakui bahwa tidak semua orang akan peduli, jangankan melihat karya kita, terkadang perkara makan mereka sendiri harus berjuang untuk memperolehnya.

Ketika keadaan sudah seperti itu, maka kita sebagai pekerja kreatif yang harus berfikir keras kembali agar apa yang kita hasilkan, karya kita berguna bagi orang lain. Dengan demikian mereka akan merasa perlu untuk melihat, menghargai, bahkan membeli karya kita. Jika hanya menyalahkan orang lain, saya rasa kita lebih hina dari mereka yang tidak menghargai karya.

Seniman cengeng, yang selalu mengemis untuk dipedulikan. Bukankah kita menamai diri sebagai orang kreatif. Sebaiknya, selain kreatif dalam berkarya, kreatif juga dalam memasarkannya. Seperti seni lukis. Saat terjadi bencana (gempa misalnya), para pekerja seni tau apa yang harus mereka lakukan. Untuk memulihkan trauma paska bencana, mereka mengadakan pemutaran film, belajar melukis bagi anak-anak dan remaja. Bukankah itu bisa menjadi trauma healing bagi mereka. Dan mereka sadar itu perlu.

Saat itu karya kita akan dihargai dan mereka akan belajar untuk berkarya juga seperti apa yang telah kita lakukan. Seni adalah kebutuhan manusia. Jadi buat dia menjadi kebutuhan pokok setiap mereka. Jangan mengemis, tapi datanglah untuk berbagi.

Untuk informasi tentang @the-garuda, kamu bisa kunjungi website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *